Gantungkan Cita-citamu Setinggi Langit

Setiap orang pasti memiliki cita-cita. Walaupun tidak setiap orang dengan mudah dapat menentukan cita-cita mereka, tapi banyak orang yang memiliki lebih dari satu cita-cita, atau memiliki cita-cita yang berubah dalam kurun waktu tertentu.

Image

Cita-cita, biasanya akan menguatkan semangat dan langkah kita. Cita-cita juga yang biasanya membuat hidup seseorang lebih terarah, dan dapat membuat seseorang mau bekerja keras demi meraih keinginannya.🙂

Begitu pun dengan Muzdalifah, remaja putri dhuafa asal Makassar yang biasa dipanggil Muzdah. Ibu kandungnya yang pergi entah kemana disaat sang ayah mulai sakit-sakitan, tidak membuat Muzdah kehilangan cita-citanya.

Image

Ia memang sempat putus sekolah sejak lulus SMP. Namun saat saudara Muzdah iba dan mengajaknya pergi ke tanah Jawa untuk tinggal di Panti Asuhan Tarbiyyatul Falah, Cimatis – Cimanggis, ia tak menolak. Tentu saja karena Muzdah yang saat ini berusia 17 tahun, ingin melanjutkan sekolah yang sempat tertunda dan menggapai cita-citanya.

Saat tim kami datang ke Panti Asuhan tempat Muzdah tinggal sekarang, Muzdah ditanya tentang kegiatan ektrakulikuler apa yang ia ikuti di sekolah dan apa cita-citanya. Dengan yakin Muzdah menjawab, “Saya ikut ekskul Jurnalistik karena senang menulis dan ingin jadi jurnalis”. Subhanallaah.. Cita-cita yang kuat mendorong Muzdah dan teman-teman lain yang tinggal di Panti Asuhan Tarbiyyatul Falah untuk tetap semangat menjalani kehidupan mereka, walau dalam keadaan serba terbatas.

Segala kegiatan yang diadakan oleh panti asuhan diluar jam sekolah, selalu diikuti oleh semua santri dengan antusias. Termasuk saat kami bersilaturahmi dan mendapat kesempatan untuk memberikan workshop gratis “Teknik Dasar Menulis untuk Media Massa” yang disampaikan oleh Budhita Arini, Ahad 22 April 2012. Workshop ini diikuti oleh adik-adik SD, SMP, SMA dan SMK yang tinggal di Panti Asuhan yang dipimpin oleh Hajjah Siti Aminah.

Image

Budhita membagi workshop dasar menulis menjadi 2 sesi. Sesi pertama, mengenai bagaimana cara mendapatkan sumber atau ide tulisan. Budhita mencoba memberikan ide mengenai cabai. Semua berlomba menjawab apa itu cabai, bagaimana bentuknya, bagaimana rasanya, apa manfaatnya dan lain-lain. Sampai ada salah satu adik panti yang menjelaskan bahwa cabai itu bisa digunakan untuk obat sariawan. Yaitu dengan cara cabainya dibakar lalu biji cabainya diambil lalu ditempelkan dimulut yang bersariawan. Subhanallaah, manfaat cabai. Hahaha.😀

 Image

Sesi berikutnya Budhita didampingi tim “Jadi Apapun yang Baik” membagi peserta menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok diharuskan untuk membuat Majalah Dinding (Mading). Setiap Mading harus berisi topik yang telah ditentukan yaitu tentang cabai, sahabat, hobi, panti, dan kisah sedih. Dengan perlengkapan yang diberikan yaitu karton, spidol, lem kertas, dan kertas warna, mereka harus membuat Mading yang kreatif, menarik, dan inovatif dalam waktu 90 menit.

Image

Waktu membuat Mading pun berakhir saat adzan ashar berkumandang. Setelah semua peserta melaksanakan sholat ashar berjama’ah, tibalah saat yang ditunggu-tunggu, yaitu saat pembagian hadiah. Horeee!🙂

Setiap kelompok menjadi juara dengan kategori masing-masing, dilihat dari kelebihan dan keunikan dari Mading yang dikerjakannya. Tim kami juga memberikan koreksi dan saran serta masukan untuk segala kekurangannya. Semua senang mendapatkan hadiah yang walaupun tidak seberapa, tapi insyaAllah berguna bagi mereka.

 Image

Workshop gratis ‘Teknik Dasar Menulis untuk Media Massa’ kali ini ditutup dengan penampilan marawis yang secara spontan diberikan oleh para santri di Panti Asuhan Tarbiyyatul Falah. Lantunan shalawat pada Nabi Muhammad SAW yang keluar dari mulut-mulut kecil anak-anak yatim dan dhuafa ini membuat kami terkesima. Terlebih karena diiringi dengan tabuhan rebana yang membuat sore itu terasa begitu berkesan. Sama berkesannya ketika kami mendengar jawaban mereka saat ditanya tentang “Apa cita-citamu?”.

Mulai dari “ingin jadi dokter”.. “ingin jadi insinyur”.. “ingin jadi guru”.. “ingin jadi jurnalis”.. “ingin jadi atlet sepakbola”.. sampai ada yang menjawab, “ingin jadi presiden”.  Subhanallaah.. Alhamdulillaahirrabbil’aalamiin..

Image

Semoga Allah memudahkan jalan mereka dan kita semua dalam usaha menggapai cita-cita, agar menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama. Jadi apapun, yang baik. Aamiin Allaahumma aamiin. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s